Inspirasimu

Nasionalisme Dan Krisis Identitas Generasi Milenial

HASTAGMU.COM – Sebelumnya Redaksi coba ingin menyampaikan narasi terkait artikel ini. Saat ini wawasan kebangsaan dinilai menurun dan generasi muda kian mengalami krisis identitas. Perkembangan generasi muda dirasakan cukup mengkhawatirkan dan perlu mendapatkan perhatian serius.

Ketika menengok kembali ke zaman dimana revolusi sedang berlangsung dahulu, semangat dan jiwa nasionalisme anak muda tak perlu diragukan lagi bahkan sampai membuat Ir. Soekarno menyebut sebuah kata “ berikan aku 1000 orang tua akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia “. Begitu berharganya peranan pemuda pada masa itu dimata Soekarno.

Kemudian kita menuju ke abad 21 dimana hari-hari yang sedang kita lalaui saat ini, coba kita menengok pemberitaan di media massa saat ini “ seorang pelajar tewas saat tawuran “. Miris, anak bangsa tewas di tangan anak bangsa, bahkan hal seperti itu layaknya sebuah budaya yang dipertahankan oleh anak-anak muda yang tersesat dalam pencarian identitas mereka

Jangankan untuk berpikir untuk mengharumkan nama bangsa dikancah internasional, mungkin dipikiran mereka yang tersesat dalam pencarian identitas itu. Membunuh orang yang seharusnya mereka anggap sebagai saudara sebangsa adalah sebuah keharusan agar dipandang hebat dimata masyarakat luas. Itu lah sepenggal narasi sebagi pembuka diskusi dengan narasumber edisi ini.

#INSPIRASIMU kali ini akan berdiskusi dengan seorang tokoh pemuda di Kota Bogor, Dia adalah Anjas Andhika Barus, saat redaksi bertanya panggilan apa yang pas untuk dirinya dia menjawab “ kang Anjas aja “. beliau aktif di organisasi kepemudaan seperti menjadi ketua di PMII Kota Bogor, menjadi Sekretaris di GP Ansor Kota Bogor, Wakil Sekretaris AMS Kota Bogor dan kini menjadi Sekretaris KNPI Kota Bogor.

Terkait narasi yang sebelumnya telah dibahas mengenai tersesatnya generasi milenial dalam pencarian identitas, Kang Anjas berpendapat “ Upaya-upaya menyadarkan dan membantu para generasi muda untuk mencari indentitas mereka itu sudah seringkali dibuat oleh pihak manapun, tapi memang pemahamannya belum terlaksana semaksimal mungkin dan kadang terjadi kegagalan,” pungkas Kang Anjas.

Sangat diperlukan pemicu generasi muda mencari wadah identitas. Energi anak muda yang berlimpah dan keinginan untuk terlibat dalam gerakan global mendorong generasi muda untuk mencari wadah sendiri biasanya seperti itu, tambah nya.

Redaksi bertanya satu pertanyaan “ pemicu generasi muda mencari wadah idnetitas seperti apa menurut kang anjas ? “. Dia menjawab, “ banyak hal tapi kita cari yang sebenarnya tidak terlalu sulit, salah satu contoh, ketersediaan ruang publik yang memadai dengan segala fasilitas yang bisa dimanfaatkan dengan mudah oleh generasi muda dan juga dengan didorong basis keilmuan yang bersifat informal.

Mendorong pemanfaat teknologi yang menjadi ciri khas generasi milenial saat ini bisa menjadikan manfaat untuk mereka ketika ingin melupakan kejenuhan dan pencarian identitas mereka bisa terarah dan bermanfaat,” jawabnya.

Kang Anjas juga menambahkan saya melihat saat ini generasi muda cenderung kearah apatis pada politik meski dikerbukaan informasi saat ini, saya tidak heran karena memang pendidikan politik yang sangat kurang pada generasi muda, biasanya mereka hanya bisa membaca atau melihat di media sosial dan teknologi lainya. Tapi kurang  bisa memahami.

Dan biasa nya para calon-calon pemimpin sibuk saat ingin mendapat suara generasi milenial tapi tidak memberikan pendidikan politik pada mereka, ketika mereka merasa di kibuli, otomatis mereka akan bergerak kepada kelompok-kelompok anak muda yang apatis pada politik. Padahal politik bisa dijadikan sebuah wadah untuk generasi muda dalam mengabdi pada bangsa dan negara juga untuk meningkatkan nasionalisme mereka, tambahnya

Ketika redaksi bertanya kembali terkait rentannya generasi muda terhadap pengaruh perubahan jaman, Kang Anjas menyebut. “ Hal itu terjadi tak lain karena generasi muda atau anak muda itu  memiliki karakteristik yang labil, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya mereka sedang dalam waktu mencari identitas, kemudian juga sedang mengalami masa transisi. Hal tersebut membuat mereka cenderung tidak mampu menahan godaan dari proses perubahan global apalagi tekanan arus teknologi yang sulit dibendung saat ini.” Jawabnya.

Namun  kita tidak boleh terlalu cepat menghakimi anak muda dengan perilaku menyimpang sebagai anak yang bandel. Untuk memahami hal itu yang sangat diperlukan itu pengertian orang tua dan guru dan lingkungan untuk peduli dan mengerti arti sebetulnya keinginan, harapan, dunia dan kehidupan mereka, tambahnya

Terakhir redaksi bertanya terkait nasionalisme yang sudah melorot saat ini, Kang Anjas menjawab “ nasionalisme timbul dari lingkungan, itu yang membentuk sebuah nasionalisme bagi saya, kita kan sudah mempunyai ideologi Pancasila yang sangat sempurna kalau menurut saya,  tapi terkadang Pancasila hanya dihafal tapi tidak dimaknai oleh sebagain masyarakat sehinggan lingkungan menjadi kurang nasionalis dan cendrung nasionalis kondisional.” Ungkapnya

Contohnya ketika budaya atau asset milik Indonesia diklaim negara lain kita berbondong-bondong untuk marah dan mengutuk tapi kita sendiri tidak berusaha untuk merawat budaya dan asset yang kita miliki, bahkan bahasa daerah sekalipun banyak generasi muda saat ini tidak lagi digunakan oleh mereka, dan lebih memilih belajar bahasa Inggris, walaupun Bahasa Ingrris memang sangat penting juga untuk dunia kerja mereka nanti, tapi menghargai warisan budaya dan warisan bangsa adalah bentuk nasionalisme yang hakiki untuk saya, tambah Kang Anjas.

Sebagai penutup redaksi meminta Kang Anjas memberikan kesimpulan nya dan beliau mengutarakan “ Jangan pernah telalu menyudutkan ketika anak muda bertingkah diluar kewajaran, mereka itu tejebak dalam pencarian identitas sudah sepatutnya kita dan pemerintah menciptakan ruang-ruang, memberikan pendidikan penggunaan teknologi tepat guna untuk generasi milenial saat ini, dalam menemukan wadah yang mereka cari memberikan pendidikan informal.

Mendukung dan memfasilitasi gerakan-gerakan komunitas mereka yang postif serta selalu berlandaskan Pancasila yang menjadi ideologi bangsa kita agar “ anak-anak nakal “ lainya bisa menyudahi semua budaya-budaya yang tidak patut dilestarikan dan menemukan dunia yang lebih bermanfaat serta menciptakan jiwa nasionalisme didalam lingkungan.” Tutup Kang Anjas ( Red )

Tulis Komentar
Tag
Perlihatkan Semua
zvr
Tanggapan Anda Dengan Artikel Ini ?
Close