Opini

Sikap 4 T Ba’da Ramadhan Untuk Hadapi Masalah Hati Dimasa Pagebluk Covid-19

ditulis oleh : Adang Budaya, S.Sy

HASTAGMU.COM – Sejak massivenya pandemi Covid – 19 mulai dari Wuhan (China), hampir ke seluruh dunia dan berdampak pula ke wilayah negara Republik Indonesia, telah banyak merubah tatanan yang sudah direncanakan dan didesain sedemikian rupa. Qadarullah, semua bidang dan aspek tak terkecuali kaifiyat ibadah dan perekonomian individual.

Fitrahnya sebagai manusia, ketika menghadapi situasi seperti saat ini, terutama terhadap ketidakpastiannya situasi ekonomi, banyak dari kita yang lebih memfokuskan diri untuk mencari kambing hitam dengan menyalahkan pihak – pihak tertentu, Si “A” lah atau Si “B”. Sikap syak (ragu) dan was – was tak sedikit pula menghinggapi hati dan pikiran kita, sehingga hal tersebut berdampak kepada keputusan – keputusan vital dalam rencana kehidupan setiap kita untuk menjalani hari – hari di masa pandemi.

Padahal, apabila berkaca pada sejarah peradaban manusia kejadian seperti ini, bukanlah hal yang baru, meski bagi sebagian dari kita baru mengalaminya. Sebelum menjelaskan apa itu Sikap 4T, maka ada baiknya bagi untuk flashback dengan mengingat sejenak sejarah masa lalu terjadinya wabah penyakit dan dampaknya terhadap dunia. Berikut dibawah ini beberapa contoh wabah yang pernah terjadi di dunia :

Black Death (Kematian Hitam) di Eropa Barat, pada abad ke – 14

pernah terjadi wabah penyakit yang merenggut hingga puluhan juta orang di Eropa. Wabah tersebut bernama Black Death (Kematian Hitam). Skala epidemi atau pagebluk yang melanda pada tahun 1350 begitu sangat mengerikan, sepertiga penduduk meregang nyawa. Setelah dilakukan investigasi secara seksama ternyata penyebabnya adalah peyakit pes yang dialami para petani sehingga sangat berpengaruh kepada hasil tani di sebagian wilayah.

Selain berdampak pada kurangnya tenaga kerja. Namun kemudian, apa hikmah dibalik kejadian tersebut? Terdapat tiga hikmah yang didapatkan bagi Eropa Barat. Pertama, pekerja tani yang tadinya diberi upah dengan harga rendah, kini menjadi memiliki nilai tawar yang tinggi. Kedua, runtuhnya sistem feodalisme lama yang mana orang – orang miskin dipaksa bekerja untuk membayar sewa terhadap tanah yang mereka tinggali. Ketiga, bangsa Eropa Barat perlahan mulai beralih menuju komersialisasi dan menjadi lebih modern dengan mengembangkan sistem transaksi dengan uang kontan.

Bahkan yang paling ekstrim adalah mendorong bangsa tersebut untuk melakukan imperialism, penjalanan laut dan ekspansi yang dipandang berbahaya menjadi alternatif lain dalam mengembalikan kerugian akibat pagebluk, meskipun harus melewati perjalanan panjang yang sangat jauh.

Wabah Cacar di Benua Amerika dan Perubahan Iklim.

Penjajahan Benua Amerika pada akhir abad ke – 15, telah menewaskan begitu banyak orang.
Berdasarkan hasil penelitian Universisty Of College, London di Inggris, terdapat temuan bahwa ekspansi penjajahan Eropa menyebabkan populasi di Amerika turun signifikan dari 60 juta penduduk yaitu sekitar 10% dari jumlah penduduk dunia hingga ke angka lima atau enam juta dalam kurun waktu seratus tahun.
Penyebab kematiannya diakibatkan oleh penyakit – penyakit yang dibawa penjajah Eropa. Dan salahsatu pembunuh terbesarnya adalah penyakit cacar. Penyakit maut lainnya adalah campak, influenza, pes, malaria, difteria, thyfus, dan kolera.

Bencana yang terjadi di Benua Amerika tersebut sangatlah berdampak pada tatanan dunia. Pertama, dengan berkurangnya jumlah manusia maka berkurang pula jumlah tanah yang digunakan. Kawasan luas kemudian menjadi tumbuh subur menghutan atau padang rumput. Kedua, pertumbuhan besar tanaman waktu diperkirakan luasnya mencapai 560.000 kilometer persegi. Setara dengan Prancis atau Kenya.

Ketiga, terjadinya penurunan drastis kadar CO2, dan ini dapat dilihat dari kadar es antartika, sehingga terjadi penurunan suhu diberbagai belahan dunia. Yang paling fenomenal di masa itu disebut dengan istilah “Zaman Es Kecil” dengan membuat suhu iklim global mengalami penurunan, dan akibatnya wilayah Eropa gagal panen sehingga mengakibatkan kelaparan.

Deman Kuning di Prancis dan Revolusi Haiti

Wabah demam kuning terjadi di wilayah Haiti, sehingga menyebabkan Prancis keluar dari Amerika Utara dan terjadinya peningkatan kekuatan di Amerika Serikat. Pada sekitar 1801, pasca terjadinya pemberontakkan para budak terhadap kekuasan penjajah. Toussaint Louverture merupakan pemimpin Haiti kala itu atas rekomendasi Prancis. Disisi lain, Penguasa Prancis, Napoleon Bonaparte mendeklarasikan diri sebagai raja seumur hidup dan berambisi untuk menguasai Amerika Utara.

Namun sungguh nahas, rencana ingin menguasai penuh Haiti dengan mengirimkan puluhan ribu pasukan akhirnya kandas. Meski pada awalnya mereka menguasai medan perang, hingga datangnya wabah penyakit demam kuning menjangkit sekitar 50 ribu tantara, perwira, dokter dan pelaut serta hanya tersisa sekitar 3000 personil yang kembali ke Prancis.

Pihak Prancis tak memilikin kekebalan tubuh untuk menangkal penyakit yang berasal dari Afrika tersebut secara alamiah. Kemudian dua tahun setelah masa frustasi tersebut, Naopelon menjual tanah di bagian Amerika Utara seluas 1,2 juta kilometer persegi ke pihak Amerika yang baru berdiri saat itu. Sejarah tersebut disebut dengan perjanjian Louisiana Purchase.

Plague Of Justinian di Turki

Plague of Justinian merupakan wabah yang menginvasi Konstantinopel, ibu kota Kerajaan Byzantine yang kini menjadi Kota Istanbul di Turki. Sejarah mencatat, wabah tersebut tersebar pada tahun 541 masehi. Wabah tersebut diakibatkan oleh virus Yersinia Pestis.
Yersinia pestis dibawa dari Mesir melalui Laut Mediterania. Bakteri tersebut menempel pada tikus hitam yang berkeliaran di kapal. Wabah ini mematikan Konstantinopel dan menyebar seperti kobaran api ke Eropa, Asia, Afrika Utara, dan Semenanjung Arab. Diprediksi 30-50 juta orang meninggal, sekitar setengah populasi dunia waktu itu.

Menurut Thomas Mockaitis, hilangnya pandemi tersebut hanya dengan menghindari yang sakit kemudian dengan menghasilkan imunitas atau kekebalan pada tubuh bagi yang masih hidup.
Pagebluk dan Jatuhnya Dinasti Ming di China, Wabah tersebut muncul pada tahun 1642, setelah lamanya berkuasa Diansti Ming yang menguasai tanah daratan China selama 300 tahun. Angka kematian akibat wabah tersebut tercatat sejarah mencapai 20% – 40% persen disetiap titiknya, khususnya China Utara.
Selain pagebluk, ada juga bencana lain yang menimpa Kekuasaan Ming tersebut, diantaranya adalah serangan serangga, pes, malaria dan kekeringan. Dinasti yang legendaris itu, akhirnya jatuh perlahan. Meski tembok besar china telah berhasil dirampungkan namun kokohnya tidak dapat menghindarkan mereka dari wabah tersebiut.

Serangan demi serangan dari pihak lawan terus terjadi. Pemberontakkan hingga mengakibatkan hancurnya jantung pertahanan yang dilakukan tantara utara, Manchuria cikal bakal dinasti Qing.
Tak lama dari ganasnya pagebluk dan lengsernya kekuasan Ming, kemudian berganti Dinasti Qing selama beberapa abad. Itulah beberapa catatan sejarah wabah yang pernah terjadi dimuka bumi. Tentu masih banyak lagi contoh – contoh kasus lainnya yang mungkin sangat banyak dan tidak bisa dihitung dengan mudah.
Lihat, bagaimana wabah tersebut mampu merubah tatanan hidup sosial, iklim global, politik, dan bahkan hingga timbulnya gerakan – gerakan imperialisme dan kapilatisme yang melakukan ekspansi Eropa dan Barat hampir ke seluruh penjuru dunia.

Masya Allah, apabila mampu mencermati setiap kejadian tentunya hal itu adalah kekuasaan Sang Pencipta. Atas kehendakNya dibalik setiap kejadian tersebut mengandung hikmah yang dapat kita petik.
Maka sebagai seorang muslim, terlebih di Indonesia yang kini sedang dilanda Covid – 19 harus mampu bangkit dan meningkatkan kekuatan ruhiyyah, bukan sekedar jasmani saja.

Maka dari itu, perlu untuk kita menggali berbagai stimulus agar dapat meningkatkan ketahanan ruhiyyah dan jasmaniyyah diantaranya dengan Sikap 4T berikut :

1. Tafakkur

Allah SWT telah memberikan karunia kepada manusia berupa akal. Dalam Alquran, orang-orang yang berakal disebut ulil albab, yaitu orang yang mempergunakan akalnya untuk melakukan tafakur. Tafakur berasal dari akar kata fikr yang berarti memikirkan.

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Wahai Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS Ali Imran [3] : 190-191).

Ayat di atas menerangkan, tafakur yang dikehendaki oleh Allah SWT adalah tafakur yang dibarengi dengan zikir kepada-Nya. Sayid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalilquran menerangkan, ulil albab adalah orang – orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman yang benar. Mereka membuka pikirannya untuk menerima tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Beberapa ayat Alquran diakhiri penegasan tentang tafakur, seperti, ”Agar kamu memikirkan,” (QS al-Baqarah [2] : 219); ”Terdapat tanda – tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir,” (QS ar-Rum [30] : 21, QS az-Zumar [39] : 42).

Rasulullah SAW bersabda, “Merenung sesaat untuk (bertafakur) lebih besar nilainya daripada amal-amal kebajikan yang dikerjakan oleh dua jenis makhluk (manusia dan jin).” (HR Ibnu Majah).
Objek tafakur tidak terbatas jumlahnya. Mulai dari penciptaan diri kita sendiri, penciptaan berbagai makhluk hidup di muka bumi, tatanan alam semesta yang menakjubkan, aneka peristiwa yang terjadi, sejarah masa lalu, serta hal-hal yang gaib hingga kehidupan akhirat. Dengan tafakur, kita bisa menghayati secara lebih mendalam tentang kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Fenomena alam yang biasa terjadi, seperti turunnya hujan, pergantian siang dan malam, atau pergerakan angin, sering dianggap sebagai rutinitas. Padahal, jika rutinitas tersebut ditafakuri secara mendalam, akan terbukalah kebesaran-Nya dengan lebih mendalam. Termasuk adanya covid – 19 yang melanda dunia saat ini.

2. Tafaqquh Fiddin

Tafaqquh Fid-Diin bisa diartikan memperdalam agama Islam. Artinya, mempelajari wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad berupa Alquran dan Sunnah. Lalu apa yang kita pelajari dari Islam ini? Yaitu mempelajari bagaimana hubungan kita dengan Allah, Sang Khalik, agar Dia memberikan keselamatan kepada kita di dunia dan di akhirat. Kita tahu bahwa syarat orang memeluk Islam adalah bersyahadat, maka kita wajib mempelajari makna syahadat. Kemudian belajar tatacara shalat, zakat, shaum, haji, dan kewajiban-kewajiban lainnya, kemudian mempelajari apa yang lebih baik untuk kita kerjakan (sunat), mempelajari mana yang halal dan mana yang haram dan makruh. Dengan begitu kita dapat menjadi orang yang taat melaksanakan ajaran dari Allah yang dibawa melalui Rasul-Nya.

Selanjutnya kita lebih mendalami lagi Al-Qur’an dan Hadits dengan menghapalkannya, memahaminya, mengamalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain.

Saat dunia menjadi gelap karena kezhaliman terjadi dimana-mana, saat kehidupan masyarakat kembali ke zaman jahiliyyah yang kedua kalinya, saat orang yang mengaku Muslim tidak lagi bangga dengan Islamnya sehingga tidak mengamalkan ajarannya, saat orang-orang beramai-ramai mengejar dunia dan melupakan kehidupan akhiratnya, saat orang-orang tua tidak lagi ‘ngeri’ dengan peristiwa kematian yang segera menghadang, saat orang-orang muda menganggap usianya untuk foya-foya dan melakukan segala sesuatu yang menurut mereka itu enak, dan saat kita menyadari itu semua, maka kita sangat perlu untuk memperdalam agama yang haq ini, agama Islam. Karena kelalaian kita dalam memahami agama Islam ini, adalah sebab utama kemunduran umat Islam saat ini. Jika kita menginginkan kebangkitan kembali agama Islam ini yang dapat memberi rahmat bagi seluruh alam, hal yang pertama mesti kita lakukan adalah memperdalam ilmu keislaman kita atau At-Tafaqquh Fid Diin.

Allah Subhanahu Wa Ta’aalaa berfirman dalam Surat At-Taubah (9) ayat 122 :
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Dan tidak sepatutnya orang-orang Mu’min itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk Tafaquh Fi Diin (memperdalam agama) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri.”
Ketika para sahabat begitu bersemangat untuk ikut serta dalam medan perang semata-mata demi meninggikan agama Allah yang haq karena betapa besarnya pahala yang akan didapat bagi orang yang berjihad di jalan Alloh, mereka hampir melupakan aktifitas memperdalam ilmu agama. Maka ayat ini turun untuk menjelaskan pentingnya memperdalam ilmu agama. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu ketika Allah Subhanahu Wa Ta’aalaa memperingatkan dengan keras orang-orang yang tidak ikut berperang, mereka berkata, “Tidak akan ada seorang pun dari kita yang tidak ikut dalam pasukan atau Sariyah (perang yang tidak diikuti oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam).” Maka ketika Rasulullah datang ke Madinah beliau mengutus Sariyah kepada orang-orang kafir, berangkatlah kaum muslimin ke medan perang seluruhnya dan meninggalkan Rosululloh sawseorang diri di Madinah, maka turunlah ayat ini.

Ibnu Abbas berkata, “Ayat ini khusus berkenaan dengan perang Sariyyah, sedangkan ayat sebelumnya yang melarang seorang pun dari tidak ikut perang berkenaan apabila Rasulullah ikut serta dalam perang (perang Ghazwah).”

Ayat ini termasuk hukum Jihad yang tidak wajib bagi kaum muslimin secara keseluruhan apabila Rasulullah tidak ikut serta dalam perang, yaitu pada saat beliau mengirim Sariyyah. Maka pada saat itu wajib bagi orang-orang beriman untuk menuntut ilmu dan memperdalam agama, karena Jihad memerlukan ilmu, dan karena menyebarkan Islam pada hakikatnya bergantung kepada penjelasan, dalil dan bukti. (Tafsir Al-Munir, 6/81)
Sahabat, mari kita renungkan! Kalau orang yang berada dalam kesibukan berperang di jalan Allah yang merupakan kesibukan paling mulia diingatkan untuk tidak melupakan kegiatan menuntut ilmu agama, maka apalagi jika yang berada dalam kesibukan lainnya. Seperti kesibukan sekolah, kuliah, bekerja, berdagang, janganlah sampai melupakan kegiatan menuntut ilmu agama. Tanpa memperdalam Ilmu Islam, mustahil orang akan dapat mengamalkan Islam dengan benar. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’aalaa hanya memberikan kebaikan kepada orang yang faham terhadap Islam.

عَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ. رواه البخاري
“Dari Muawiyyah R.A ia berkata, Aku mendengar Nabi saw bersabda: “Siapa yang Allah kehendaki kebaikan terhadapnya, maka Allah memahamkannya dalam agama.” (HR. Bukhari)
Apabila kejadian itu dikaitkan dengan masa corona saat ini, maka seharusnya sebagai insan yang lemah dan haus akan ilmu, kita harus mampu memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menuntut ilmu, meningkatkan pemahaman dalam semua bidang. Contohnya ilmu kedokteran bersama para peneliti saat ini dituntut untuk dapat menemukan serum antivirus corona yang dapat menjadi penawar penyakit tersebut. Sungguh Maha Bijaksana Allah, yang telah menggerakkan matahari dan bulan, siang dan malam sehingga segala sesuatunya berjalan pada porosnya. Memposisikan diri pada takdirnya yang telah ditentukan Allah. Kemudian, ahli agama dituntut untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaanya agar ketauhidannya benar – benar menjadi tujuan hakiki yang terlepas dari ambisi dan hasrat duniawiyah yang mengalahkan tujuan sebenarnya. Bayangkan, dengan adanya corona ini seolah dunia ini tidak ada arti nyawa bisa kapan saja melayang tak kenal usia dan waktu dengan begitu cepat pada setiap saatnya. Yang ada hanyalah pengharapan diri akan ampunan atas penghambaan yang begitu lalai selama ini. Beranggapan bahwa ini sebagai “latihan menjelang kiamat” yang sebenarnya benar – benar akan terjadi nanti.

3. Tawakkal

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (Q.S. Ath-Thalaq / 65 : 3).
Ar-Robi’ bin Khutsaim berkata : Dari segala sesuatu yang menyempitkan (menyusahkan) manusia. (H.R. Bukhari 11/311)
Ibnul Qayyim berkata : Allah adalah yang mencukupi orang yang bertawakal kepadanya dan yang menyandarkan kepada-Nya, yaitu Dia yang memberi ketenangan dari ketakutan orang yang takut, Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong dan barangsiapa yang berlindung kepada-Nya dan meminta pertolongan dari-Nya dan bertawakal kepada-Nya, maka Allah akan melindunginya, menjaganya, dan barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah akan membuatnya nyaman dan tenang dari sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkan, dan Allah akan memberi kepadanya segala macam kebutuhan yang bermanfa’at. [Taisirul Azizil Hamidh hal. 503] Dan ini adalah ganjaran yang paling besar, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan diri-Nya sendiri sebagai yang memenuhi segala kebutuhan orang yang bertawakal kepada-Nya, dan sungguh Allah telah banyak menyebutkan kebaikan dan keutamaan yang menjadi ganjaran untuk orang-orang yang bertawakal kepada Allah, antara lain. Firman Allah.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar”. [Ath-Thalaq/65 : 2] وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan dan akan melipat gandakan pahala baginya”. [Ath-Thalaq/65 : 5]

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.

Sedangkan ayat yang menyebutkan sikap tawakal adalah firman Allah :
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. [Ath-Thalaq/65 : 3] Ibnu Al-Qayyim berkata : Perhatikanlah ganjaran-ganjaran yang akan diterima oleh orang yang bertawakal yang mana ganjaran itu tak diberikan kepada orang lain selain yang bertawakal kepada-Nya, ini membuktikan bahwa tawakal adalah jalan terbaik untuk menuju ketempat di sisinya dan perbuatan yang amat dicintai Allah. [Madarijus Salikin 2/128] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata. ” Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Jika seseorang keluar dari rumah, maka ia akan disertakan oleh dua orang malaikat yang selalu menemaninya.

Jika orang itu berkata Bismillah (dengan menyebut nama Allah), kedua malaikat itu berkata : Allah telah memberimu petunjuk, jika orang itu berkata : Tiada daya dan upaya dan kekuatan kecuali kepada Allah, kedua malaikat itu berkata : Engkau telah dilindungi dan dijaga, dan jika orang itu berkata : Aku bertawakal kepada Allah, kedua malaikat itu berkata : Engkau telah mendapatkan kecukupan”.
Beberapa ayat dan hadist Nabi Shallalllahu ‘Alaihi Wa Sallam diatas yang menyinggung betapa pentingnya seorang hamba tawakkal dalam menghambakan dirinya kepada Sang Pencipta dengan hakiki. Li ‘ilaa likalimatillah menjadi pedoman setiap nafasnya, bersmaaan dengan itu memurnikan ketauhidan adalah sebuah keniscayaan dan hasil yang diraih agar mendapatkan kebahagiaan sejati dunia dan akhirat. Ketika kita sudah menggantungkan segala permasalahan kepada Allah, maka Allahlah yang akan berbuat untuk kita, karena pada dasarnya tugas manusia adalah menjalani setiap takdir dan menyerahkan segala urusannya termasuk hasil hanya kepadanya.

4. Tawadhu

Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ketika orang sudah memiliki gelar yang berderet, tingginya ilmu dan pangkat, memiliki harta yang melimpah, namun sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati, alias tawadhu’. Padahal kita seharusnya seperti ilmu padi, yaitu “kian berisi, kian merunduk”.

Ibnu Hajar berkata, “Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.” (Fathul Barri, 11: 341)
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588). Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 142).

Sikap tawadhu adalah lawan dari sikap sombong (ujub, takabbur). Sikap ini akan membuat kita menjadi manusia yang lembut, rendah diri dihadapan Allah dan rendah hati dihadapan sesama makhlukNya. Kemudian begitu indahnya bahwa sikap ini yang akan menghadirkan kasih sayang Tuhan, keberkahan dalam setiap langkah dan kedamaian dalam setiap jengkal kehidupan.
Justru sebaliknya, sikap sombong yang apabila kita pelihara akan menimbulkan berbagai macam malapetaka dan bencana, bukan hanya pelaku maksiat saja yang terkena azabNya namun orang berimanpun akan kena getahnya.

Corona yang sampai saat ini belum pasti kapan hilangnya membuat kita sadar bahwa ini merupakan tegutan Tuhan kepada kita. Allah menginginkan kita semua kembali kepadaNya. Tanpa perlu putus asa dan optimism bahwa sesungguhnya ampunan Tuhan jauh lebih besar daripada besarnya dosa – dosa kita. Jangan pernah mengganggap enteng setiap sujud dan kalimat – kalimat pujian yang kita lakukan karena bisa saja dengan amalan itu membuat pintu taubat kita semakin dekat dengan Allah.
Wallahu a’lam bish – shawwab.
Fastabiqul Khairat.

Tulis Komentar
Tag
Perlihatkan Semua
zvr
Tanggapan Anda Dengan Artikel Ini ?

#ARTIKEL TERKAIT

Close